Oleh | Dibuat | Dibaca 1.592 kali | 2 komentar

Fatwa haram facebook menurut saya kayaknya kurang pas. Kenapa? Ya karena Facebook hanyalah sebuah media. Saya kira haramnya itu karena perbuatan maksiatnya di facebook, bukan facebooknya. Tul gak? Ya kalau kita korek lebih jauh, toh facebook sendiri bisa digunakan untuk berbagai macam tujuan. Dakwah di facebook juga bisa kok. Punya 1000 teman di facebook, dan tiap hari kita memposting hadist-hadist shahih atau ayat alquran, insya Allah akan bernilai pahala. Apa ini juga membuat facebook diharamkan?

Facebook Haram?OK, kita lanjutkan bahasan kita... Saya rasa, siapapun bahkan ulama-ulama MUI/di Jawa Timur yang mengatakan facebook haram memang perlu dikoreksi, jangan sampai mem-blow up facebook-nya dong karena pada intinya, maksiat itu haram dimanapun juga. Jangan sampai facebook dijadikan kambing hitam. Masa maksiat yang kita lihat dibiarin gitu aja, tapi ketika ada sebercak maksiat yang mungkin ketahuan dilakukan lewat facebook tiba-tiba diharamkan.... aneh kan??? Apa Anda benar-benar percaya kalau orang-orang di MUI itu/ulama-ulama itu benar-benar manusia yang berkualitas?

Menurut saya, apapun media komunikasi yang digunakan, kalau disalahgunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab pasti akan menimbulkan dampak negatif bagi dirinya dan orang lain. Jadi, tergantung pada kepribadian dan sikap masing-masing individu dalam mengaplikasikan kecanggihan teknologi komunikasi di era kontemporer sekarang ini. Tidak ada salahnya, kalau kita bercermin diri, bahwa dibalik semua yang kita punya tidak jarang juga akan memunculkan nilai-nilai negatif. Gak percaya? Coba analisis dan buktikan sendiri!

Untuk memahami persoalan pengharaman Facebook, kita terlebih dahulu mencba menganalisis sisi positif yang ditimbulkan dari media tersebut.

Pertama, bahwa Facebook dapat mempermudah akses kita untuk mendapatkan teman baru. Melalui teman baru itu kita bisa saling tukar informasi dan berita-berita penting yang dapat kita ambil sisi positifnya.

Kedua, kehadiran Facebook, -bagi saya pribadi-, memunculkan semangat dan kepercayaan diri yang baru, karena ketika Facebook belum tampak di tengah-tengah kita, saya sempat putus hubungan dengan teman lama saya yang sangat berpengaruh dalam perjalanan masa depan saya. Kebetulan, sejak SMA, saya belum pernah berkomunikasi dan bertemu langsung dengan teman lama saya tersebut. Dan ketika Facebook muncul ke permukaan, maka saya berkesempatan untuk mengetahui keberadaan teman saya tersebut.

Kembali pada haram tidaknya Facebook, kita memang tidak bisa memaksakan bahwa Facebook lebih banyak sisi positifnya ketimbang sisi negatifnya. Tapi alangkah baiknya tidak perlu ada keputusan untuk mengharamkan penggunaan Facebook, karena bertebarnya maksiat dan ambruknya moralitas generasi muda tidak semata-mata disebabkan oleh kehadiran Facebook aja.

Kalau kita bercermin diri, ternyata dalam setiap gerak-gerik kita pasti menimbulkan maksiat atau pun sarana untuk melakukan hal-hal yang dilarang agama. Kaki dan tangan kita, kalau tidak dikendalikan dengan landasan moral dan agama selalu akan memacu kita untuk melakukan tindakan amoral. Silakan renungkan saja, saya pribadi aja memahaminya dan sering mendapati bukti dan fakta dikehidupan sehari-hari.

Sekarang dari kejadian ini yuk kita belajar, kita hadi fesbuker yang baik, yang taat aturan, jangan terlalu fokus facebook terus apa lagi sampai melengahkan pekejaan yang lebih penting. Selktif itu penting

Ya segitu dulu deh... udah malem, cape juga saya, ngantuk.... Kesimpulannya sih ya balik lagi ke diri masing-masih sih, dan soal sikapa wajar di fesbuk akan saya bahas nanti di posting khusus.

IBX5A4393D5E2AD7