Oleh | Dibuat | Dibaca 4.585 kali | 0 komentar

Biodata Boediono:

BoedionoNama : Prof. Dr. Boediono
Kelahiran : Blitar, Jawa Timur/25 Februari 1943
Istri : Herawati Boediono
Anak : Ratriana Ekarini dan Dios Kurniawan
Alamat : Jl. Mampang Prapatan XX, Jakarta Selatan

Riwayat Pendidikan

  • Bachelor of Economics (Hons./Sarjana Ekonomi) di University Of Westren, Australia (1967)
  • Master di bidang ekonomi dari Monash University, Australia (1972)
  • Doctor of Phhilosophy (Dr) dari Wharton School, University of Pennsylvania, AS (1979)
  • Profesor dari Universitas Gadjah Mada (2006)

Riwayat Pekerjaan

  • Gubernur Bank Indonesia (2008-2013)
  • Menteri Koordinator Perekonomian Kabinet Indonesia Bersatu (2005-2009)
  • Menteri Keuangan Kabinet Gotong Royong (2001-2004)
  • Penasehat Komisaris PT Pertamina (2003)
  • Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua Bappenas Kabinet Reformasi Pembangunan (1998-1999)
  • Direktur I Bank Indonesia Urusan Operasi dan Pengendalian Moneter (1997-1998)
  • Direktur III Bank Indonesia Urusan Pengawasan BPR (1996-1997)
  • Presiden Komisaris PT Bank PDFCI (1994-1998)
  • 1988-1993 menjabat Deputi Ketua Bidang Fiskal dan Moneter Bappenas
  • Staf Ahli Dewan Moneter (1974)
  • Wakil Direktur Workshop Purna Sarjana Ekonomi dan Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (1973-1975)
  • Internal Auditor Bank of America cabang Jakarta (1969-1970)
  • Dosen Fakultas Ekonomi UGM (1973-hingga sekarang)
  • 1993-1998 Menjabat sebagi Direktur (saat ini setara Deputi Gubernur) Bank Indonesia
  • 2001-2004 Menjabat Sebagai Menteri Keuangan

Profil Lengkap

Calon Wakil Presiden (Cawapres) pendamping SBY, Capres Partai Demokrat, ini seorang ekonom profesional bertangan dingin. Tangan dingin Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada dan Doktor Ekonomi Bisnis lulusan Wharton School University of Pennsylvania, AS 1979, ini terbukti selama menjabat Menteri Keuangan pada pemerintahan Megawati, Menko Perekonomian Kabinet Indonesia Bersatu (resuffle Senin (5/12/2005), maupun sebagai Gubernur Bank Indonesia.

Selama menjabat Menkeu Kabinet Gotong-Royong, suami dari Herawati dan ayah dua anak (Ratriana Ekarini dan Dios Kurniawan), ini berhasil membenahi bidang fiskal, masalah kurs, suku bunga dan pertumbuhan ekonomi. Bersama dalam The Dream Team dan Bank Indonesia, Master of Economics, Monash University, Melbourne, Australia (1972), itu berhasil menstabilkan kurs rupiah pada kisaran Rp 9000-an per dolar AS. Begitu pula dengan suku bunga berada dalam posisi yang cukup baik merangsang kegiatan bisnis, sehingga pertumbuhan ekonomi menaik secara signifikan. Pria berpenampilan kalem dan santun serta terukur berbicara itu juga dinilai mampu membuat situasi ekonomi yang saat itu masih kacau menjadi dingin.

Saat baru menjabat Menkeu, langkah pertama yang dilakukan berpenampilan rapih dan low profile itu adalah menyelesaikan Letter of Intent dengan IMF yang telah disepakati sebelumnya serta mempersiapkan pertemuan Paris Club September 2001. Paris Club ini merupakan salah satu pertemuan penting karena menyangkut anggaran 2002. Setelah itu, dia bersama tim ekonomi Kabinet Gotong-Royong, secara terencana mengakhiri kerjasama dengan IMF (Dana Moneter Internasional) Desember 2003.

Departemen Keuangan di bawah kendali pria kelahiran Blitar, Jawa Timur, 25 Februari 1943, itu pun berhasil melampaui masa transisi pascaprogram IMF, yang sebelumnya sudah dia ingatkan akan sangat rawan, bukan hanya menyangkut masalah dana, tetapi juga menyangkut rasa percaya (confidence) pasar. Apalagi kala itu, Pemilihan Umum 2004 juga berlangsung. Kondisi rawan itu pun berhasil dilalui tanpa terjadi guncangan ekonomi.

Dia berhasil menggalang kerjasama dengan Bank Indonesia dan tim ekonomi lainnya, kecuali dengan Kwik Kian Gie yang kala itu tampak berbicara sendiri sebagai Menteri Negara Perencanaan Pembangunan/ Kepala Bappenas. Sebagai Menteri Keuangan dalam Kabinet Gotong Royong, ia berhasil memperbaiki keuangan pemerintah dengan sangat baik sehingga mampu membawa Indonesia lepas dari bantuan Dana Moneter Internasional.

Tak heran bila majalah BusinessWeek (AS), memberi Boediono pengakuan sebagai tokoh yang kompeten di posisinya sebagai menteri keuangan. Ia dipandang sebagai salah seorang menteri yang paling berprestasi dalam Kabinet Gotong Royong.

Maka ketika Susilo Bambang Yudhoyono terpilih sebagai presiden, banyak orang mengira bahwa Boediono akan dipertahankan dalam jabatannya, namun posisinya ternyata ditempati Jusuf Anwar. Ternyata, Jusuf Anwar hanya bisa bertahan lebih satu tahun.

Saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan perombakan (reshuffle) kabinet pada 5 Desember 2005, Boediono diangkat menggantikan Aburizal Bakrie menjadi Menteri Koordinator bidang Perekonomian dan mengangkat Sri Mulyani menggantikan Jusuf Anwar sebagai Menteri Keuangan.

Boediono sendiri, dikabarkan sempat menolak secara halus saat diminta oleh Presiden Yudhoyono untuk memperkuat jajaran tim ekonomi, dengan alasan hendak beristirahat dan kembali mengajar. Namun, akhirnya ia memenuhi permintaan SBY.

Tiga hari sebelumnya, ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyo dalam jumpa pers di Pangkalan TNI Angkatan Udara Kelapa Sawit, Medan, Sumatera Utara, Jumat (2/12/2005), mengungkapkan telah meminta mantan Menteri Keuangan Boediono untuk memperkuat tim ekonomi Kabinet Indonesia Bersatu, pasar pun menyambutnya dengan antusias. IHSG dan mata uang rupiah langsung menguat. Terlihat dari nilai tukur rupiah yang langsung naik dibawah Rp 10.000 per dolar AS. Boediono dinilai mampu mengelola makro-ekonomi yang kini belum didukung pemulihan sektor riil dan moneter. Juga perdagangan di lantai Bursa Efek Jakarta (BEJ) naik signifikan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEJ langsung ditutup menguat hingga 23,046 poin (naik sekitar 2 persen) dan berada di posisi 1.119,417, berhasil menembus level 1.100.

"Berbagai pelaku bisnis menilai Boediono kredibel, low profile, tidak banyak bicara, prudent dan sangat konservatif."

Presiden mengakui, sebelum terbang ke Sibolga, Kamis (1/12) pagi, telah bertemu Boediono, memintanya memperkuat tim ekonomi. Menurut Presiden, Boediono cukup meyakinkan untuk mengelola makro-ekonomi dengan baik. Namun, menurut Presiden SBY, Boediono mengaku ingin beristirahat sambil berbuat baik bagi negara tanpa harus bergabung di kabinet. "Tetapi saya minta, Pak Boediono kalau negara memerlukan, kalau rakyat menghendaki dan Anda harus masuk pemerintahan, tentu itu amanah. Mudah-mudahan semuanya berjalan baik dalam satu dua hari ini," kata Presiden SBY.

Presiden SBY didampingi Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi, Juru Bicara Presiden Andi Mallarangeng, dan Wakil Gubernur Sumatera Utara Rudolf Pardede, menginginkan ada komunikasi dan konsultasi yang baik antara pemerintah dan Bank Indonesia.

Diungkapkan, inflasi tahun 2005 yang lebih buruk dari tahun 2004 dinilai jauh dari harapan. Tentu ada faktor yang bisa menjelaskan mengapa inflasi buruk. Harus ada keterpaduan atau harmoni kebijakan fiskal yang dibuat pemerintah dan kebijakan moneter dari Bank Indonesia.

Presiden berharap Boediono akan mampu membenahi kinerja ekonomi Indonesia, terutama di sektor riil dan terkait dengan tingginya laju inflasi saat ini menyusul kenaikan harga BBM pada 1 Oktober 2005 diiringi tingginya tingkat konsumsi pada bulan puasa Ramadhan dan Lebaran November 2005. Mengapa saya akan menata kembali tim ekonomi karena kita ingin semuanya tertata baik, makro-ekonomi, mikro-ekonomi, jangka pendek, jangka menengah, jangka panjang. Ada yang harus bergerak cepat, yaitu ekonomi, tetapi harus ada yang menjaga stabilitas jangka panjang, sustainability, dan balance, kata Presiden SBY.

Presiden menginginkan orang yang tepat di posisi yang tepat untuk mendukung kerja tim yang kuat. Pemilihan figur didasarkan pada kemampuan melakukan koordinasi dan kerja sama tim yang baik. Presiden berkepentingan dengan dua hal itu, untuk memiliki dewan menteri dan tim kerja yang baik. Sementara, Boediono yang dikenal sebagai pribadi yang sedikit bicara banyak bekerja itu, belum mau bicara soal ajakan Presiden SBY tersebut.

Akhirnya Dr. Boediono, pria kelahiran Blitar, Jawa Timur, 25 Februari 1943, itu bersedia menjabat Menko Perekonomian menggantikan Aburizal Bakrie. Ia didukung Menteri Keuangan Sri Mulyani yang juga handal. Mereka membawa perekonomian Indonesia pada track dan daya tahan yang baik, terutama dalam menghadapi krisis ekonomi global.

Kemudian, ada tanggal 9 April 2008, DPR mengesahkan Boediono sebagai Gubernur Bank Indonesia, menggantikan Burhanuddin Abdullah.

Sebelum menjabat Menteri Koordinator Perekonomian Indonesia pada Kabinet Indonesia Bersatu, Menteri Keuangan Kabinet Gotong Royong (2001–2004) dan Kabinet Reformasi Pembangunan (1998-1999), Boediono telah menjabat Menteri Negara Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas. Ia juga pernah menjabat Direktur Bank Indonesia pada masa pemerintahan Soeharto.

Guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, ini memperoleh gelar S1 (Bachelor of Economics (Hons.)) dari [Universitas Western Australia] pada tahun 1967. Lima tahun kemudian, meraih gelar Master of Economics dari Universitas Monash. Kemudian meraih gelar S3 (Ph.D) dalam bidang ekonomi dari Wharton School, Universitas Pennsylvania pada tahun 1979.

Bertanggung jawab, Bersih, Sederhana, Konsisten.

Ketika SBY bertanya kepada Boediono, bersediakah ia jadi calon wakil presiden, ekonom itu tak langsung menjawab "ya". Tawaran orang No.1 di Indonesia itu tentulah mengejutkannya. Itu sebuah kehormatan yang sebelumya tak terbayangkan. Seperti diucapkannya dalam pidato penerimaan di Gedung Pertemuan Sasana Budaya Ganesha, Bandung, 15 Mei 2009, ia, yang memulai karirnya sebagai guru dan ekonom, tak pernah bercita-cita menduduki jabatan puncak dalam Republik.

Boediono pun minta kepada SBY agar ia diberi waktu berpikir. Dua hari, mungkin lebih dari dua hari kemudian, ia datang kembali. Kepada SBY ia mengatakan, perlu dipertimbangkan bagaimana nanti keadaan Bank Indonesia jika ia jadi calon wakil presiden. Sebab jika ia menerima tawaran SBY, jabatan Gubernur Bank Indonesia harus segera diisi.

SBY justru senang dengan sikap Boediono. Dalam diri ekonom ini tampak kehendak untuk pertama-tama memikirkan tanggungjawabnya kepada institusi yang dipimpinnya, dan bukan memikirkan jabatan bagi dirinya sendiri.

SBY telah menemukan orang yang tepat – dan Boediono pun jadi calon wakil presidennya untuk pemilihan 2009 ini. Mengingat Boediono bukan orang orang yang punya dukungan massa atau partai, SBY menunjukkan sikap yang berani. Ia mengambil keputusan yang "tidak populer". Tetapi di sini tampak tekadnya untuk menegakkan pemerintahan yang bersih, bukan hanya dengan retorika, tetapi dengan tindakan dan tauladan.

Boediono terkenal bersih. Sebagai pejabat ia menyetir sendiri mobilnya di hari Sabtu dan Minggu, sebab sopir yang ditugasi membawa mobilnya adalah pegawai yang dibayar Negara, bukan dibayarinya sendiri. Ia juga terkenal hidup sederhana. Seorang wartawan yang pernah umroh bersama Boediono bercerita, bahwa Boediono memilih membeli baju seharga 8 dollar satunya, meskipun ada seorang pengusaha yang mau membelikannya baju seharga 50 dollar.

Di bawah Presiden Megawati, ia pernah dengan halus menolak perintah untuk menggunakan dana di luar APBN untuk membeli pesawat terbang dari sebuah negara asing. Ia siap untuk diberhentikan ketimbang melanggar undang-undang.

Dituduh "neo-lib" oleh mereka yang mau mendeskreditkan dirinya dan memburuk-burukkan kebijakan SBY, ia justru seorang yang percaya bahwa pasar tidak bisa sepenuhnya dibiarkan sendiri. Tetapi untuk itu, harus ada Negara yang efektif. Dan Negara yang efektif adalah Negara yang bersih, bebas dari korupsi.

IBX5A4393D5E2AD7